By Zheng Hong See

09 October 2019 - 14:21

Kota Manchester dahulu kala terkenal sebagai kota industri, tempat pertumbuhan musik, dan klub sepak bola saingan. Namun, bagaimana rasanya tinggal dan belajar di sana? Mahasiswa program sarjana jurusan hukum tahun kedua asal Malaysia, Zheng Hong See, membagikan pengalamannya.

Besar di Penang yang beriklim tropis, Zheng Hong See memilih kuliah hukum di Inggris karena negara asalnya menggunakan sebagian sistem hukum yang berlaku di Inggris. Namun, dengan banyaknya universitas untuk dipilih, apa yang membuatnya memilih Manchester – sebuah kota yang terkenal akan curah hujannya yang cukup tinggi?

'Universitas di sini memiliki reputasi bergengsi, dan Jaksa Agung Malaysia saat ini, Tommy Thomas, adalah lulusan Manchester University,’ jelas Zheng. ‘Itu sebagian alasannya, tapi saya juga menyukai sejarah kota ini yang kaya dan budayanya yang beragam, serta fakta bahwa dulu kota ini menjadi garis depan industrialisasi.'

Tentu saja, sejarah Manchester – sebagai pusat politik, kreatif, dan manufaktur – berarti bahwa kota ini menjadi rumah bagi sejumlah warganya yang terkenal. ‘Lihat plak biru di gedung-gedung yang menunjukkan tempat dulu orang terkenal tinggal,’ ujar Zheng. ‘Ada plak di rumah yang dulu dihuni oleh ahli kampanye Emmeline Pankhurst, novelis Charlotte Brontë, dan Sir Frederick Henry Royce, salah satu pendiri perusahaan mobil mewah Rolls Royce.'

Pengaruh Emmeline Pankhurst begitu besar sehingga kota ini menjadi rumah bagi Pankhurst Centre, yang memberi penghormatan bagi keberhasilannya memberi hak pilih bagi perempuan di Inggris pada tahun 1918. Tapi, apa yang menginspirasi Zheng untuk mengunjungi museum itu? ‘Saya ingin lebih memahami sejarah di balik gerakan hak pilih perempuan, yang telah saya baca di koran serikat mahasiswa,’ ujarnya. ‘Saya sangat tertarik pada taktik gerilya yang digunakan Pankhurst dan rekan-rekannya ketika mencoba membangkitkan kesadaran untuk gerakannya.'

 

Zheng and friends at a Manchester football match

Hal yang menyenangkan: Bersorak untuk Manchester City

Manchester juga terkenal akan kecintaannya pada sepak bola, dengan dua klub ikonik, Manchester City dan Manchester United, yang jaraknya hanya terpisah sejauh enam kilometer. Kembali ke bulan Desember 2018, Zheng melihat para pemenang Liga Premier Manchester City bertanding melawan klub sepak bola Jerman, Hoffenheim, di babak grup Liga Champions di Stadion Etihad.

'Sungguh luar biasa menonton pertandingan Manchester City,’ ujar Zheng. ‘Para penggemar sangat luar biasa saat mendukung tim kami, dan saya beruntung bisa berada begitu dekat dengan para pemain. Itu adalah pengalaman yang benar-benar tak terlupakan.'

Menjelajahi kota: Makanan, penduduk lokal, dan budaya

Terlepas dari sejarah dan sepak bola, apa yang ditawarkan kepada mahasiswa yang ingin makan di luar? ‘Makanan di Manchester sangat bervariasi dan ada gabungan berbagai jenis hidangan,’ jelas Zheng. ‘Ada makanan Inggris, makanan Italia, makanan Asia, dan banyak lagi. Saya pribadi suka risotto di restoran Vapiano Manchester.'

Zheng sudah berteman dengan banyak penduduk lokal. ‘Kenyataan bahwa Manchester adalah kota dengan banyak kebudayaan membuat kota ini mudah untuk ditinggali, ujarnya. ‘Keberagaman budaya di Manchester sama dengan tempat asal saya di Penang,’ ucapnya. ‘Dan penduduk Manchester sangat ramah!'

Kehidupan di kampus: Menari, tamasya sehari, dan keberagaman

Meskipun pusat sejarah Manchester layak untuk dijelajahi, kampus universitas ini juga menawarkan keindahan alaminya sendiri, dengan kebun botani dan sejumlah hamparan tanaman hijau. ‘Bagian kota favorit saya sebenarnya adalah wilayah kampus, karena itu merupakan gedung bersejarah,’ kata Zheng, ‘Saya terutama suka Gedung Withworth Hall dengan tanaman ivy yang menjalar.'

Ketika tidak sedang mempelajari tentang kriminal, kedokteran, undang-undang kepemilikan, dan hukum internasional publik, Zheng memanfaatkan lebih dari 400 perhimpunan yang ada di Manchester secara maksimal. Ia terpilih sebagai Diversity Officer (Petugas Keberagaman) University of Manchester’s Law Society (Perhimpunan Jurusan Hukum University of Manchester), dan juga bagian dari Malaysian Student Society (Perhimpunan Mahasiswa Malaysia), tempat para anggotanya dapat merasakan semua hal berbau Malaysia, mulai dari pertunjukan tari Malaysia hingga tamasya sehari ke festival makanan.

Setelah lulus kuliah, Zheng berencana kembali ke Malaysia untuk praktik hukum dan menerapkan pengetahuan barunya. Namun, sementara itu ia akan menjelajahi lebih banyak tentang semua yang ada di Manchester – dan berharap dapat pergi ke Etihad lagi segera!

Learn more about the courses on offer in the UK here